Kamis, 12 Oktober 2017

Ilmu al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq)

Pengertian Ilmu al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq)
Dalam muqaddimah kitabnya, al-Asybah wa al-Nadhair setelah mengutip riwayat yang berisi surat Umar bin Khatab r.a. kepada Musa al-Asy’ari r.a, al-Suyuthi menjelaskan kepada kita bahwa kandungan isi surat tersebut mengisyaratkan bahwa sebagian dari perkara-perkara fiqh berbeda hukum dan ‘illatnya dengan perkara yang menyerupainya (al-nadhair) karena didapati kekhususannya. Inilah yang dinamakan  dengan al-Furuuq. Selanjutnya, al-Suyuthi mengatakan, dalam al-Furuuq ini kami akan menjelaskan perbedaan antara perkara-perkara yang menyerupai yang sama gambarannya, akan tetapi hukum dan ‘illatnya berbeda.[1]
Untuk lebih jelas memahami ilmu al-Furuuq atau al-Jam’u dan al-Farq ini, mari kita simak dua penjelasan di bawah ini :
1.    Syeikh Yaasin bin ‘Isa al-Fadaniy al-Makkiy mengatakan,  al-Jam’u dan al-Farq merupakan pengetahuan mengenai suatu perkara yang sama hukumnya dari satu sisi dan berbeda dari sisi lain dengan perkara lain. Termasuk dalam kelompok ini ilmu yang dinamakan dengan ilmu al-Furuq, yakni pengetahuan hal-hal yang membedakan antara dua perkara yang menyerupai,  dimana keduanya tidak sama dalam hukum.[2]
2.    Dr Ya’cub bin Abd al-Wahab al-Baahisiin mengatakan, ilmu al-Furuuq adalah ilmu yang mengkaji wujuh (jalan-jalan) dan sebab-sebab ikhtilaf antara masalah-masalah fiqhiyah yang menyerupai gambarannya, akan tetapi berbeda hukumnya, dimana kajiannya dari aspek menjelaskan makna wujuhnya itu dan yang berhubungan dengannya, dari aspek sah dan fasidnya, menjelaskan syarat-syaratnya dan jalan menolaknya, tumbuh dan perkembangannya, penerapan dan faedahnya.[3]
Faedah Mempelajari Ilmu al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq) dalam Fiqh
Dr Ya’cub bin Abd al-Wahab al-Baahisiin menyebutkan ada tiga faedah mempelajari ilmu al-Furuuq, yakni :
1.    Menghilangkan prasangka terjadinya kontradiksi dalam fiqh yang terjadi dengan sebab menetapkan hukum yang berbeda pada perkara yang menyerupai dan menetapkan hukum yang sama pada perkara yang berbeda. Misalnya syara’ menetapkan wajib mandi dengan sebab keluar mani dan membatalkan puasa dengan sebab keluar mani dengan sengaja, padahal mani itu suci. Sementara itu di sisi lain, syara’ tidak mewajibkan mandi dan tidak membatalkan puasa dengan sebab kencing dan mazi, padahal keduanya ini najis. Karena itu, dengan mengenal sebab-sebab perbedaan hukum antara dua perkara yang menyerupai ini, maka akan diketahui lemah dan gugur kritikan-kritikan atasnya.
2.    Pengenalan ilmu ini mengantarkan seseorang mengenal hakikat hukum dan menyinari jalan dihadapannya, sehingga dia selamat dari tergelincir dalam berijtihad.
3.    Dengan sebab terbuka adanya perbedaan antara perkara-perkara fiqh, dapat memastikan secara terang benderang ‘illat-‘illat hukum dan hal-hal yang menjadi kritikan terhadap ‘illat-‘illat ini serta sekaligus menolak kritikan-kritikan tersebut dari ‘illat yang telah dipersiapkan oleh seorang faqih untuk melakukan qiyas yang shahih, sehingga menghasilkan dhan yang kuat dalam menghubungkan furu’ kepada kepada ashal dan adanya ketenteraman hati dalam mentakhrijkan hukum.[4]
Melihat faedah-faedah mempelajari Ilmu al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq) di atas sangat banyak membantu ahli fiqh dalam mengkaji masalah-masalah fiqh, maka  tidak heran apabila sebagian ulama mengatakan, “Fiqh itu adalah al-farq (pembedaan)” sebagaimana dikutip oleh Syeikh Abdullah bin Sulaiman al-Jarhazi.[5]
Karya Ulama Mazhab Mengenai Ilmu al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq)
Karya-karya ulama mengenai ilmu al-Jam’u wa al-Farq ini antara lain :
1.    Kitab Mathali’ al-Daqaiq fi al-Jawami’ wa Fawariq, karya Jamaluddin al-Asnawi. (Mazhab Syafi’i)
2.    Kitab al-Ma’aayah fi al-Fiqh ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i (Mazhab Syafi’i)
3.    Kitab al-Istighnaa fi al-Farq wa al-Istitsnaa, karya Muhammad Abi Sulaiman al-Bakri (Mazhab Syafi’i)
4.    Kitab al-I’tinaa’ fi al-Farq wa al-Istitsnaa, karya Muhammad Abi Sulaiman al-Bakri (Mazhab Syafi’i)
5.    Al-Jam’u wa al-Farq, karya Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini. (Mazhab Syafi’i)
6.    Kitab al-Asybah wa al-Nadhair, karya al-Suyuthi (Mazhab Syafi’i). Dalam kitab ini pembahasan ilmu al-Jam’u wa al-Farq ini dalam kitab ke-enam dengan judul al-Kitab al-Saadisu fi Abwaabi Mutasyaabihah wa maa Iftaraqat fiiha.
7.    Kitab Anwar al-Buruuq fi Anwa-u al-Furuuq, karya Ahmad bin Idris al-Qarafiy (Mazhab Maliki)
8.    Kitab al-Furuuq al-Fiqhiyah, karya Abu Muhammad Abd al-Wahab bin ‘Ali bin Nashr al-Bagdadiy. (Mazhab Maliki)
9.    Kitab al-Furuuq al-Fiqhiyah, karya Muslim bin ‘Ali bin Muhammad bin Hasan al-Dimasyqiy (Mazhab Maliki)
10.    Kitab al-Nukt wa al-Furuuq li Masail al-Mudawanah wa al-Mukhalathah, karya Abu Muhammad Abd al-Haq bin Harun al-Shaqliy (Mazhab Maliki)
11.    Kitab ‘Iddah al-Buruuq fi Jam’i ma fi al-Mazhab min al-Jumu’ wa al-Furuuq, karya Abu Abbas Ahmad bin Yahya al-Wasyarisiy. (Mazhab Maliki)
12.    Kitab Idhah al-Dalail, karya Syeikh Abu Muhammad Abd al-Rahim bin Abdullah bin Muhammad al-Zariraaniy al-Baghdadi al-Hanbali. (Mazhab Hanbali)
13.    Kitab al-Furuuq, karya As’ad bin Muhammad bin al-Husain al-Naisaburiy al-Karabisiy. (Mazhab Hanafi)
14.    Kitab al-Asybah wa al-Nadhair ‘ala Mazhab Abi Hanifah al-Nu’man, karya Ibnu Najiim (Mazhab Hanafi). Dalam kitab ini pembahasan ilmu al-Jam’u wa al-Farq ini dalam pelajaran ke-tiga dengan judul, al-Fann al-Tsaalits : al-Jam-u wa al-Farq.
Catatan :
(Ke-empat belas kitab di atas dapat ditemukan di media online dalam versi PDF)
Contoh-Contoh al-Furuuq (al-Jam’u dan al-Farq)
1.    Boleh bersuci dengan air yang berubah dengan sebab garam air dan tidak boleh bersuci dengan air yang berubah dengan sebab garam gunung. Perbedaannya : garam air, asalnya adalah air. Ini berbeda dengan dengan garam gunung, dimana asalnya bukan air, akan tetapi memang diciptakan dengan sifatnya itu. Karena itu, garam gunung yang bercampur dengan air sama halnya dengan tumbuhan za’faran yang bercampur dengan air.[6]
2.    Air yang pernah digunakan (musta’mal) pada basuh kali ke-empat adalah suci dan tidak dihukum musta’mal. Sedangkan air yang digunakan pada tajdid wudhu’ dihukum musta’mal. Perbedaannya : Air yang pernah digunakan (musta’mal) pada basuh kali ke-empat tidak digunakan pada fardhu dan juga bukan merupakan perintah syara’. Adapun air yang digunakan pada tajdid wudhu’ merupakan perintah syara’, meskipun tidak digunakan pada fardhu. Nabi SAW bersabda : “Tajdidlah wudhu’, maka akan ditajdidkan pahala bagimu”.[7]
3.    Datang baligh seorang anak setelah melakukan shalat beberapa saat sebelum baligh, apakah shalat tersebut memadai untuk shalat yang diwajibkan atasnya setelah baligh? Jawabnya memadai, tidak memadai dalam perkara haji dan umrah.  Perbedaannya, shalat diperintahkannya atas anak-anak dan dipukulinya apabila tidak mau melakukannya, tidak pada perkara haji dan umrah. Dan juga haji dan umrah karena kewajibannya sekali seumur hidup, maka disyaratkan terjadi haji dan umrah dalam keadaan sempurna, tidak dalam hal shalat.[8]
4.    Apabila sembuh seseorang daari pingsannya, sedangkan waktu shalat ‘ashar masih tersisa hanya ukuran satu raka’at shalat, Imam Syafi’i mengatakan, hendaknya melakukan shalat ‘ashar dan adapun apabila tersisa hanya ukuran takbiratul ihram, Imam Syafi’i mengidah shalat ‘ashar tersebut. Perbedaannya : ukuran satu raka’at meliputi lebih banyak perbuatan shalat, yakni takbiratul ihram, berdiri, qiraah, rukuk, i’tidal, dua sujud, dan duduk antara dua sujud. Ini tidak terdapat pada waktu yang tersisa hanya ukuran takbiratul ihram.[9]
5.    Seseorang memiliki dua puluh lima ekor unta, maka jika tidak ada padanya bintu makhaazh,boleh sebagai penggantinya ibnu labun, meskipun dia mempunyai kemampuan membeli bintu makhaazh. Seseorang yang mampu membeli air tidak boleh bertayamum, demikian juga yang mampu membeli hamba sahaya dalam masalah kifarat tidak boleh berpindah kepada puasa dan demikian juga orang yang mampu menikah dengan perempuan merdeka, ini sama halnya dengan yang mempunyai isteri merdeka, maka tidak boleh menikah dengan hamba sahaya. Perbedaannya : Air adalah asal, sedangkan tanah badal. Sedangkan makna badal pada tanah adalah badal hakikat. Demikian juga dalam perkara puasa dan hamba sahaya. Karena itu, tidak dapat dipikirkan untuk berpindah kepada badalnya kecuali sesudah sempurna dharuratnya. Adapun ibnu labun, meskipun tidak boleh berpindah kepadanya apabila ada pada bintu makhaaz, namun ia tidak bersih sebagai badal. Karena keduanya masih satu jenis, cuma hanya berbeda sifatnya.[10]
6.    Apabila seseorang pada malam syak (malam tiga puluh Sya’ban) niat berpuasa besok pagi dengan sandaran niatnya seandainya ternyata besok adalah bulan Ramadhan, maka puasanya adalah puasa Ramadhan dan seandainya besoknya itu masih bulan Sya’ban, maka puasanya itu adalah puasa sunnat. Kemudian ternyata besok paginya bulan sudah masuk Ramadhan, maka tidak sah puasanya dan atasnya wajib qadha. Dalam kasus lain, seseorang berpuasa pada hari ketiga puluh Ramadhan dengan niat seperti  kasus di atas, maka puasanya ini sah.  Perbedaannya : Malam tiga puluh Ramadhan sandaran niatnya kepada asal yang yakin, yakni dia masih dalam bulan Ramadhan, hanyasanya dia ragu apalah Ramadhan sudah keluar?. Maka wajib didasarkan kepada yakin. Adapun dalam kasus pertama tidak ada asal sandarannya. Karena yang menjadi asal adalah berada dalam bulan Sya’ban, padahal puasa tidak wajib pada bulan Sya’ban. Sedangkan keyakinan tidak dapat ditinggalkan karena keragu-raguan.[11]
7.    Apabila seseorang menunda shalat kepada akhir waktunya dan tiba-tiba dia mati sebelum sempat melaksanakannya, maka dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak maksiat. Dalam kasus lain, seseorang menunda melaksanakan haji pada tahun dia mempunyai kemampuan melaksanakan haji, tiba-tiba dia mati sebelum melaksanakannya pada tahun depannya, maka dia bertemu dengan Allah dalam keadaan maksiat. Padahal menunda dalam dua masalah ini, hukumnya mubah. Perbedaannya : Waktu shalat apabila sudah masuk, maka akhir waktunya maklum dan zamannya terbatasi. Karena itu, apabila ditunda shalat dengan memaklumi  akhir waktu yang boleh penundaannya itu, maka dia tidak berdosa. Adapun pada kasus haji, apabila ditunda pelaksanaannya pada tahun pertama dia tidak mengetahui batas waktunya, sehingga dia dapat memastikan menundanya pada waktu tersebut.[12]
8.    Apabila seseorang menjual seekor ternak, kemudian hamil setelah terjadi akad jual beli dan melahirkan sebelum penyerahan ternak tersebut, maka tidak boleh sipenjual menahan anaknya untuk meminta tambahan harga. Dalam kasus lain, seseorang menjual seekor ternak, sedangkan dalam rahimnya sudah ada janin, kemudian lahir janin tersebut, maka boleh sipenjual menahan anak dan induknya untuk meminta tambahan harga berdasarkan salah satu dari dua qaul. Perbedaannya : Janin apabila sudah wujud ketika akad, maka janin tersebut sebagian dari benda yang dijual di sisi ulama yang mempersentasekan harga atas induk dan janinnya. Karena itu, boleh sipenjual menahan semua benda yang dijual. Adapun apabila wujud hamil setelah akad jual beli, maka harga bukanlah bayaran untuk anaknya. Sedangkan sipembeli memiliki anak tersebut dengan sebab memiliki induknya, bukan dengan sebab akad atas induknya.[13]
9.    Sulthan tidak boleh menikahkan perempuan belum baligh, akan tetapi boleh menikahkan orang gila yang sudah baligh (kedua kasus ini apabila tidak ada wali mujbir). Perbedaannya : Orang gila yang sudah baligh kadang-kadang berkeinginan untuk menikah dan perlu melihat kemaslahatannya dalam menikahkannya. Sulthan dapat memperhatikan kemaslahatannya, maka apabila dilihat ada kemaslahatannya, sulthan boleh menikahkannya. Adapun perempuan belum baligh, rasionalnya dia belum berkkeinginan untuk menikah, maka tidak ada hajat merusak kemaluannya sebelum dhahir analisa perlunya merusak kemaluannya itu.[14]
10.    Apabila seseorang mengatakan kepada isterinya : “Kamu tertalaq karena masuk rumah”, maka jatuh talaq ketika itu juga, baik isterinya itu masuk rumah atau tidak. Dalam kasus lain, seseorang berkata kepada isterinya : “Kamu tertalaq apabila kamu masuk rumah”, maka tergantung jatuh talaqnya kepada masuk rumah. Perbedaannya : Kasus pertama adalah ta’lil (meng‘illatkan) talaq munjiz. Sedangkan kasus kedua menta’liqkan talaq. Ta’liq berbeda dengan ta’lil. Tidak termasuk syarat ta’lil benar adanya ta’lil itu.[15]



[1] Al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 5
                [2] Abu al-Faizh Muhammad Yaasin bin ‘Isa al-Fadaniy al-Makkiy, Fawaid al-Janiyah Hasyiah al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Faraid al-Bahiyah fi Nadhm al-Qawaid al-Fiqhiyah, Terbitan : Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 98
[3] Dr Ya’cub bin Abd al-Wahab al-Baahisiin, al-Furuuq al-Fiqhiyah wa al-Ushuliyah, Syirkah al-Riyadh, Hal. 25
[4] Dr Ya’cub bin Abd al-Wahab al-Baahisiin, al-Furuuq al-Fiqhiyah wa al-Ushuliyah, Syirkah al-Riyadh, Hal. 30-31
                [5] Abdullah bin Sulaiman al-Jarhazi, Mawahib al-Saniyah Syarh al-Faraid al-Bahiyah, (dicetak bersama Fawaid al-Janiyah Hasyiah al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Faraid al-Bahiyah fi Nadhm al-Qawaid al-Fiqhiyah), Terbitan : Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 98
[6] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. I, Hal. 57
[7] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. I, Hal. 58-60
                [8] Abu al-Faizh Muhammad Yaasin bin ‘Isa al-Fadaniy al-Makkiy, Fawaid al-Janiyah Hasyiah al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Faraid al-Bahiyah fi Nadhm al-Qawaid al-Fiqhiyah, Terbitan : Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut,  Juz. I, Hal. 99
[9] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. I, Hal. 303-304
[10] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. II, Hal. 19-20
[11] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. II, Hal. 173-174
[12] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. II, Hal. 192
[13] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. II, Hal. 345-346
[14] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. III, Hal. 128-129
[15] Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwaini, al-Jam’u wa al-Farq, Dar al-Jail, Beirut, Juz. III, Hal. 228

Sabtu, 07 Oktober 2017

Istiwa’ Maklum dan Kaifiyat Majhul

Ungkapan pada judul tulisan di atas merupakan penggalan dari sebuah perkataan yang sering dinisbahkan sebagai perkataan Imam Malik yang sejauh bacaan yang ada, kami belum menemukan sanad yang bersambung kepada Imam Malik.  Lengkapnya perkataan tersebut sebagaimana dikutip oleh al-Zarkasyi dalam kitabnya, al-Burhan fi ‘Ulumul Qur’an adalah sebagai berikut :
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة
Istiwa’ maklum, kaifiyat majhul dan mengimaninya wajib, sedangkan bertanya tentangnya bid’ah. [1]

Penisbatan ucapan ini sebagai perkataan Imam Malik banyak terdapat dalam kitab-kitab ulama yang sering menjadi rujukan umat Islam hari ini. Selain al-Zarkasyi sebagaimana telah dikutip di atas, penisbatan ucapan ini kepada Imam Malik juga telah disebut dalam kitab al-Milal wa al-Nahl karya al-Syahrastani.[2] Ulama lain yang menisbahkan perkataan ini kepada Imam Malik adalah al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya[3] dan al-Razi dalam kitab tafsir Mafaatih al-Ghaib.[4] Sebenarnya ucapannya ini disebut-sebut juga sebagai ucapan Ummu Salamah yang hidup lebih duluan masanya dari Imam Malik sebagaimana dikutip oleh al-Zarkasyi[5] dan al-Qurthubi.[6]
Riwayat yang lebih shahih
Dhahir ucapan Imam Malik di atas , yakni kaifiyat majhul adalah itsbat kaifiyat, akan tetapi kaifiyatnya tidak ketahui keadaannya sebagaimana i’tiqad kebanyakan kaum Wahabi Salafi. Apabila dhahir ucapan ini dimaknai dari ucapan tersebut, maka kita harus mengatakan riwayat ini dha’if, karena bertentangan dengan ucapan Imam Malik tentang ini dalam redaksi lain yang lebih shahih yang secara tegas menafikan kaifiyat, yaitu antara lain :
1.    Al-Baihaqi meriwayatkan melalui sanad Abu Abdullah al-Hafizh-Ahmad bin Muhammad bin Ismail bin Mihran- bapaknya,-Abu al-Rabi’ Risydin bin Sa’ad,-Abdullah bin Wahab, beliau berkata :
كُنَّا عِنْدَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدَ اللَّهِ، الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَيْفَ اسْتِوَاؤُهُ؟ قَالَ: فَأَطْرَقَ مَالِكٌ وَأَخَذَتْهُ الرُّحَضَاءُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ، وَلَا يُقَالُ: كَيْفَ، وَكَيْفٌ عَنْهُ مَرْفُوعٌ، وَأَنْتَ رَجُلُ سُوءٍ صَاحِبُ بِدْعَةٍ، أَخْرِجُوهُ. قَالَ: فَأُخْرِجَ الرَّجُلُ
Kami di sisi Malik bin Anas, tiba-tiba masuk seorang laki-laki bertanya, “Ya Abu Abdullah (Imam Malik), al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa, bagaimanakah istiwa’nya?” Abdullah bin Wahab selanjutnya bercerita : “Maka Malik menunduk ketika itu dan keluar keringatnya, kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata : “al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa sebagaimana Allah mensifati dirinya, tidak dikatakan kaifa (bagaimana), kaifiyat ternafi darinya. Kamu laki-laki yang buruk pelaku bid’ah. Usir dia! Abdullah bin Wahab mengatakan, maka aku keluarkan laki-laki itu.[7]

Riwayat al-Baihaqi ini juga telah dikutip antara lain oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathulbarri, beliau mengatakan al-Baihaqi telah mentakhrinya dengan sanad jaid (shahih) dari Abdullah bin Wahhab[8] dan  al-Zahabi dalam kitabnya, al-‘Ulu[9] dan al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an.[10]
2.    Dalam riwayat lain, al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin al-Harits al-Faqih al-Ashfahanii-Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyan yang dikenal dengan Abi al-Syaikh-Abu Ja’far Ahmad bin Zairak al-Yazdi-Muhammad bin ‘Amr bin al-Nazhr al-Naisaburi-Yahya bin Yahya, beliau berkata :
كُنَّا عِنْدَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فَجَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى فَكَيْفَ اسْتَوَى؟ قَالَ: فَأَطْرَقَ مَالِكٌ بِرَأْسِهِ حَتَّى عَلَاهُ  الرُّحَضَاءُ ثُمَّ قَالَ: الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلَّا مُبْتَدِعًا. فَأَمَرَ بِهِ أَنْ يُخْرَجَ
Kami di sisi Malik bin Anas, tiba-tiba masuk seorang laki-laki bertanya, “Ya Abu Abdullah (Imam Malik), al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa, bagaimanakah istiwaa’ ?” Yahya bin Yahya selanjutnya bercerita : “Maka Malik menunduk kepalanya ketika itu dan keluar keringatnya, kemudian beliau berkata : “Istiwa’ tidak majhul, kaifiyat tidak masuk akal dan mengimaninya adalah wajib, sedangkan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Tidak aku lihat kamu kecuali mubtadi’. Lalu Malik memerintahkan mengusir laki-laki tersebut.[11]

Ucapan di atas juga telah diriwayat dari Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, gurunya Malik bin Anas.[12]
3.    Dalam kitab al-‘Ulu, al-Zahabi mengatakan, telah meriwayat oleh Yahya bin Yahya al-Tamimiy, Ja’far bin Abdullah dan satu kelompok ulama, meraka mengatakan :
جَاءَ رَجُلٌ الى ماللك فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى فَكَيْفَ اسْتَوَى؟ قَالَ:فما رأيت مالكا وجد من شيئ كموجدته من مقالته  وعَلَاهُ  الرُّحَضَاءُ يعني العرق وَأَطْرَقَ القوم فسرى عن مالك وَّ قَالَ الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، والِاسْتِوَاءُ منه غَيْرُ مَجْهُولٍ،  وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، واَني اخاف ان تكون ضالا. فَأَمَرَ بِهِ ْفاُخْرَجَ
Datang seorang laki-laki bertanya, “Ya Abu Abdullah (Imam Malik), al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa, bagaimanakah istiwaa’ ?” Yahya bin Yahya selanjutnya bercerita : “Tidak pernah aku melihat Malik gelisah tentang sesuatu seperti kegelisahannya dari perkataannya dan keluar keringatnya. Orang-orangpun menunduk kepalanya sehingga hilang kegelisahan dari Malik. kemudian beliau berkata : “Kaifiyat tidak masuk akal, Istiwa’ dari-Nya tidak majhul, dan mengimaninya adalah wajib, sedangkan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Aku kuatir kamu menjadi sesat. Maka Malik memerintah mengusirnya.[13]

Dengan ini redaksi juga telah diriwayat oleh Abu al-Qasim al-Laalaka-iy sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an.[14]
4.    Dalam al-Tamhid limaa fi al-Muwatha’ min al-Ma’ani wa al-Asaniid, Ibnu Abdilbar meriwayat dari jalur Muhammad bin Abdulmalik-Abdullah bin Yunus-Baqiy bin Makhlad-Bakaar bin Abdullah al-Quraisyi- Mahdi bin Ja’far  :
عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ أَنَّهُ سَأَلَهُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَيْفَ اسْتَوَى قَالَ فَأَطْرَقَ مَالِكٌ ثُمَّ قَالَ اسْتِوَاؤُهُ مَجْهُولٌ وَالْفِعْلُ مِنْهُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالْمَسْأَلَةُ عَنْ هَذَا بِدَعَةٌ
Dari Malik bin Anas, sesungguhnya ditanyai seseorang mengenai firman Allah ‘Azza wa Jalla,”  al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa, bagaimanakah istiwaa’ ?” Mahdi bin Ja’far selanjutnya bercerita : “Imam Malikpun menunduk kepalanya, kemudian beliau berkata : “Istiwa’ majhul, perbuatan darinya tidak masuk aqal dan bertanya tentang ini bid’ah.[15]

Alhasil ucapan “Istiwa’ ma’lum wa al-kaif majhul” adalah dhaif dinisbahkan kepada Imam Malik dengan alasan sebagai berikut :
1.    Bertentangan dengan riwayat yang lebih shahih dan mempunyai beberapa jalur sebagaimana telah dikutip di atas.
2.    Riwayat yang mengatakan “istiwa’ ma’lum wa al-kaif majhul”, sejauh ini kita tidak menemukan sanadnya yang bersambung kepada Imam Malik.
3.    Riwayat yang mengatakan kaifiyat majhul mengindikasikan Allah mempunyai kaifiyat, akan tetapi tidak diketahui keadaannya dan ini bertentangan dengan ijmak ulama yang menafikan kaifiyat kepada Allah.
Diantara para ahli yang menguatkan riwayat dengan redaksi kaifiyat ghairu ma’qul dan melemahkan riwayat dengan redaksi kaifiyat majhul adalah Hasan al-Saqaf dalam kitab Majmu’ al-Rasail dan muqaddimah beliau untuk kitab Daf’u Syubhah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih karangan Ibnu al-Jauzi, beliau mengatakan perkataan yang dinisbahkan kepada Malik dengan redaksi al-Istiwa’ ma’lum wa al-kaif majhul adalah bathil dengan ini redaksi, karena ucapan tersebut mengandung itsbat kaif kepada Allah, sedangkan Malik sendiri menafikan kaif dengan ucapan beliau, “Tidak dikatakan kaifa dan kaif ternafi dari-Nya”[16] dan Dr Said Fudah dalam catatan kaki terhadap karangan beliau sendiri, al-Farq al-‘Azhim baina al-Tanziih wa al-Tajsim.[17]
Makna istiwa’ maklum
            Apabila kita terima i’tiqad bahwa Allah tidak mempunyai kaifiyat, maka istiwa’ maklum ini harus dimaknai dengan makna yang tidak mengindikasikan Allah mempunyai kaifiyat. Karena itu, kita tidak bisa memaknainya istiwa’ Allah maklum dalam arti duduk bersila sebagaimana makna hakikatnya pada lughat Arabiyah. Karena duduk bersila dalam bahasa Arab mempunyai kaifiyaqat sebagaimana dipahami oleh semua orang yang mempunyai akal sehat. Karena inilah sebagian ulama memahami perkataan Imam Malik ini dengan makna maklum disebut dalam al-Qur’an. Berikut ini pendapat ulama dalam memahami perkataan “istiwa’ maklum”, antara lain :
1.    Al-Qurthubi dalam tafsirnya : Maklum pada lughat[18] (beliau tidak mengatakan makna lughat ini yang menjadi makna yang dimaksudkan pada lafazh istiwa’)
2.    Sebagian ulama sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan, Imam Malik dengan ucapannya bermaksud tawaqquf dari membicarakannya sebagaimana mazhab al-waaqifiyah (mazhab tafwizh).[19]
3.    Al-Tilmasaani mengatakan, penempatan makna istiwa’ pada lughat maklum setelah memastikan duduk menetap bukanlah maksudnya, akan tetapi maksudnya adalah qahr, istila’ dan qashad menyudahi pada sifat kamal (mazhab ta’wil).[20]
4.    Al-Ramli mengatakan, penempatan makna istiwa’ pada lughat maklum setelah menafikan duduk menetap, makna yang maklum adalah qahr, ghulbah atau qashad kepada menciptkan sesuatu, yakni ‘arasy sebagaimana firman Allah : “tsummasstawa’ ila al-samaa’ wahiya dukhan”, maksudnya qashad kepada menjadikan ‘arasy atau qashad menyudahi pada sifat kamal sebagaimana firman Allah : “wa lamma balagha asyuddahu wasstawa’”.[21]
5.    Syeikh Muhammad al-Khalily mengatakan, perkataan Malik “al-Istiwa’ ghairu majhul” yakni istiwa’ tidak majhul wujud , karena Allah Ta’ala telah memberitahukannya, sedangkan beritanya merupakan kebenaran yang yakin dan  tidak ada keraguan di dalamnya.[22]
6.    Syekh Salamah al-Fazha’i al-‘Izhamiy al-Syafi’i mengatakan, istiwa’ disebut dalam kitab Allah, maklum maknanya dalam lughat Arab dan tidak majhul penggunaannya dengan beberapa maknanya. Karena itu, barangsiapa yang mengetahuinya, maka sungguh dia akan mengetahui apa yang dimaksudkan dengan istiwa’ pada haq Allah. Pada ketika itu, Allah tidak didapati bersifat dengan kaifiyat dan tidak didapati keperluan bertanya. Karena itu, tidak ada bertanya mengenai ini kecuali dari orang-orang yang ada sakit dalam hatinya atau tidak fasih dalam pemahaman dan bodoh dengan rahasia lughat ini yang telah diturunkan al-Qur’an oleh Allah dengannya.[23]
Makna al-kaif majhul
Apabila kita maknai kaifiyat majhul dengan makna Allah mempunyai kaifiyat, akan tetapi tidak diketahui keadaan kaifiyatnya sebagaimana dhahir makna ucapan ini, maka ucapan ini harus kita tolak, karena bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya yang mengatakan kaifiyat ternafi dan tidak masuk akal diitsbatkan kepada Allah sebagaimana telah dijelaskan di atas. Namun apabila kita dapat mengkompromikan antara dua riwayat ini, maka ini lebih baik karena beramal dengan qaidah : “Mengamalkan dua kalam lebih baik dari membatalkan salah satunya”. Diantara cara komprominya sebagaimana dikemukakan oleh Dr Sa’id Fudah dalam catatan kaki terhadap karangan beliau sendiri, al-Farq al-‘Azhim baina al-Tanziih wa al-Tajsim adalah majhul disini bermakna majhul penisbatannya kepada Allah Ta’ala, sedangan sesuatu yang majhul penisbatannya kepada Allah tidak ma’qul dan wajib menafikannya.[24] Jadi disebut malzum akan tetapi dimaksudkan lazimnya.
Dengan pengertian ini, juga kita harus memahami perkataan Rabiah al-Ra’yi yang diriwayat oleh al-Baihaqi melalui jalur Abu Bakar bin al-Harits-Abu al-Syaikh- Muhammad bin Ahmad bin Ma’dan-Ahmad bin Mahdi-Musa bin Khaqaan-Abdullah bin Shaleh bin Muslim, beliau berkata :
سُئِلَ رَبِيعَةُ الرَّأْيَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَيْفَ اسْتَوَى؟ قَالَ: الْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَيَجِبُ عَلِيَّ وَعَلَيْكُمُ الْإِيمَانُ بِذَلِكَ كُلِّهُ
Rabi’ah al-Ra’yi ditanyai mengenai firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala “al-Rahman ‘ala al-arsy istawaa” , bagaimana istawaa’?. Beliau menjawab: Kaifiyat majhul, istiwaa tidak masuk akal dan wajib atasku dan atasmu mengimani semuanya.[25]






[1] Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulumul Qur’an, Maktabah Dar al-Turatsi, Kairo, Juz. II, Hal. 78
[2] Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nahl, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 80
[3] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 219-220.
[4] Al-Razi, Mafaatih al-Ghaib, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 147
[5] Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulumul Qur’an, Maktabah Dar al-Turatsi, Kairo, Juz. II, Hal. 78
[6] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 220.
[7] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Sifaat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Mesir, Hal. 379
[8] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathulbarri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. XIII, Hal. 407
[9] Al-Zahabi , al-‘Ulu, Maktabah Zhu-i al-Salafiyah, Riyadh, Hal. 138-139.
[10] Al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Haramain, Singapura, Juz. II, Hal. 6
[11] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Sifaat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Mesir, Hal. 379
[12] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Sifaat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Mesir, Hal. 379
[13] Al-Zahabi , al-‘Ulu, Maktabah Zhu-i al-Salafiyah, Riyadh, Hal. 139.
[14] Al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Haramain, Singapura, Juz. II, Hal. 6
[15] Ibnu Abdilbar, al-Tamhid limaa fi al-Muwatha’ min al-Ma’ani wa al-Asaniid, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 151
[16] Hasan al-Saqaf, Majmu’ al-Rasail, Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Juz. I, Hal. 310 dan Ibnu al-Jauzi, Daf’u Syubhah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih (Muqadimmah Hasan al-Saqaf), Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Hal. 71-72
[17] Said Fudah, al-Farq al-‘Azhim baina al-Tanziih wa al-Tajsim, Dar al-Razi, Hal. 25
[18] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 219
[19] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah, Darul Fikri, Hal. 82
[20] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah, Darul Fikri, Hal. 82
[21] Al-Ramli, Fatawa al-Ramli (dicetak pada hamisy al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah), Darul Fikri, Juz. IV Hal. 273
[22] Syeikh Muhammad al-Khalily, Fatawa al-Khalily, Juz. I, Hal. 77
[23]  Syekh Salamah al-Fazha’i al-‘Izhamiy al-Syafi’i, al-Barahiin al-Sathi’ah, Mathba’ah al-Sa’adah, Hal. 250
[24] Said Fudah, al-Farq al-‘Azhim baina al-Tanziih wa al-Tajsim, Dar al-Razi, Hal. 25
[25] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Sifaat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Mesir, Hal. 379